Tentang PMDSU

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mengamanatkan agar pengembangan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sebagai lembaga penyelenggara pendidikan tinggi, perguruan tinggi mempunyai fungsi dalam memperkuat potensi sumber daya manusia (SDM) terutama pada sektor ilmu pengetahuan dan teknologi. Terlebih, fakta dan data menunjukkan bahwa SDM mempunyai peran sentral bagi peningkatan produktivitas ekonomi suatu negara. SDM berkualitas tinggi, menguasai sains dan teknologi merupakan syarat penting dalam peningkatan peradaban manusia, pendapatan per kapita negara serta peningkatan kesejahteraan warga negara.

Oleh karena itu, seorang dosen harus memiliki kualifikasi akademik minimum dan sertifikasi pendidik profesional sesuai dengan jenjang kewenangan mengajarnya. Amanat tersebut juga secara jelas tertuang dalam Pasal 46 ayat 2 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menerangkan bahwa dosen harus memiliki kualifikasi akademik minimum, yaitu lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan lulusan program doktor untuk program pascasarjana.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemdikbudristek terus berupaya untuk mendorong dan meningkatkan kuantitas dosen yang memiliki kualifikasi akademik S2 dan S3 melalui beragam pendekatan. Berbagai langkah sistematis dan perbaikan berkelanjutan selalu dilaksanakan baik pada era TMPD, BPPS hingga BPPDN pada saat ini.

Diskusi kelompok terfokus yang diprakarsasi oleh Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tanggal 14-15 Oktober 2011 yang dihadiri oleh 24 Direktur Program Pascasarjana di seluruh Indonesia memberikan beberapa indikasi awal yang menjadi faktor penyebab kurang produktif dan atraktifnya pendidikan Doktor di Indonesia. Butir-butir penting yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah isu tentang bobot dan penyelesaian perkuliahan, masa studi, rendahnya produktifitas terutama publikasi, ketersediaan sumberdaya terutama Guru Besar, penerimaan mahasiswa program doktor, ketersediaan dana riset dan tugas-tugas lain yang harus dikerjakan oleh mahasiswa.  Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi tersebut Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan menginisiasi pembentukan Tim Perumus Program Pendidikan Doktor untuk Sarjana Unggul yang terdiri dari Bapak Dahrul Syah (IPB), Bapak Dewa Ngurah Suprpata (UNUD), Ibu Syafrida Manuwoto (IPB), Ibu Hilda Zulkifli (UNSRI), Bapak Elfindri (UNAND) dan Bapak Syamsul Rizal (UNSYIAH).

Pada tahun 2012 telah dibuka koridor baru yang dinamakan Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).  Mahasiswa angkatan pertama program ini telah memulai studi pada tahun ajaran 2013.  Program Beasiswa PMDSU merupakan salah satu upaya terobosan untuk mempercepat laju pendidikan doktor dan meningkatkan jumlah doktor di Indonesia. Melalui program ini, para sarjana unggul diharapkan dapat dididik dan dibina menjadi seorang doktor dalam suasana akademik yang sehat di bawah bimbingan promotor handal dengan rekam jejak penelitian dan pendidikan yang baik dan cemerlang. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu opsi di masa yang akan datang terutama terkait pemberian beasiswa pendidikan pascasarjana dan pembiayaan penelitian pada program pendidikan pascasarjana.

Hakekat Program PMDSU adalah membangun kapasitas institusi pendidikan pascasarjana dalam negeri agar memiliki daya saing di dalam menyelenggarakan pendidikan doktor. Strategi dasarnya, PMDSU mengintegrasikan seluruh input pembiayaan yang ada seperti beasiswa, penelitian, sandwich-like/PKPI, SAME-PMDSU, hibah sarpras serta mengarahkan pengalokasian sumber daya tersebut kepada pascasarjana potensial yang terpilih. Strategi berikutnya, PMDSU memberikan otonomi yang lebih tinggi kepada promotor di dalam merencanakan dan melaksanakan program. Dengan demikian, di institusi pascasarjana akan tumbuh lebih banyak academic leader sebagai penanda semakin kuatnya pendidikan doktor.

Penyelenggaraan Beasiswa PMDSU angkatan pertama (PMDSU batch I) pada tahun 2013 diikuti sebanyak 57 orang mahasiwa dan dibimbing oleh 27 orang promotor unggul yang tersebar di enam perguruan tinggi. Adapun perguruan tinggi penyelenggara Program PMDSU batch I yaitu Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Penyelenggaraan beasiswa PMDSU batch II dan batch III telah dilaksanakan berturut-turut pada tahun 2015 dan 2017. Jumlah penerima beasiswa PMDSU batch II adalah 321 orang yang dibimbing oleh 176 orang promotor dari 12 perguruan tinggi negeri sedangkan jumlah penerima beasiswa PMDSU batch III adalah 248 orang yang dibimbing oleh 162 orang promotor dari 11 perguruan tinggi negeri. Pada penyelenggaraan Beasiswa PMDSU batch VI yang dilaksanakan pada tahun 2018 dengan jumlah penerima sebanyak 135 orang dan dibimbing oleh 114 orang promotor. Sedangkan untuk penyelenggaraan Beasiswa PMDSU batch V tahun 2019 diikuti oleh sebanyak 151 orang penerima beasiswa dan dibimbing oleh 133 orang promotor. Tahun 2021 penyeelnggaraan Beasiswa PMDSU batch VI diikuti oleh sebanyak 152 orang penerima beasiswa dan dibimbing oleh 129 orang promotor.

Anda Selanjutnya?

Beasiswa program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) adalah beasiswa program percepatan pendidikan yang diberikan kepada lulusan Sarjana yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang Doktor dengan masa pendidikan selama 4 (empat) tahun yang dibimbing oleh Promotor handal Tanah Air. Peserta PMDSU ini dituntut untuk dapat menghasilkan minimal 2 buah publikasi hasil riset di Jurnal Internasional.